Afrizal Mukadar Dan Visi Kepemimpinan Anak Muda Untuk Kemajuan


Afrizal Mukadar. Caketum HMI Cab. Ambon
Periode 2019-2020
Afrizal Mukadar (AM), yang sekarang adalah Ketua Umum HMI FISIP Universitas Pattimura (2018–2019), juga mencalonkan diri sebagai Ketua Umum HMI Cabang Ambon Periode 2019–2020. Sejumlah pertimbangan mendorong AM tentu telah dihitung dengan matang. Apalagi ketika dia direkomendasikan dari dua perguruan tingggi yang berbeda yakni, Komisariat Ilmu Sosial & Politik Universitas Pattimura dan Komisariat Hukum Universitas Darussalam. Sejumlah alasan berikut setidaknya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Mengapa harus Afrizal Mukadar dan model Kepemimpinan Anak Muda seperti apa yang HMI perlukan ?
Bukan Soal Usia
AM yang saat ini berusia 22 tahun, terbilang cukup muda bila dibandingkan dengan sejumlah Calon Ketua Umum HMI Cabang Ambon kali ini. Apalagi AM juga masih tercatat sebagai mahassiwa aktif di Program Study Ilmu Pemerintahan FISIP Unpatti. Tentu Ini langkah tak biasa yang diambil AM.
Segala pertimbangan dan konsekuensi tentu telah dihitung. Namun tak sedikit juga yang akan berhitung soal usianya yang muda itu. Yah, namanya juga politik. Namun untuk merespon sejumlah argumen itu, berikut #UntukKemajuan Marketing Team berusaha untuk mengulasnya.
Benar, dari segi usia dan kaderisasi, AM masih cukup muda. Berbeda dengan beberapa calon lain. Berbeda dengan “kebiasaan” umum di tiap suksesi pencalonan Ketua Umum HMI Cabang Ambon, AM terbilang berani ketika masuk dalam bursa pertarungan orang 01 di HMI Cabang Ambon itu. Baginya, ini bukan soal hitungan usia, melainkan kualitas dan terobosan yang hendak dilakukan.
Begitu banyak anak muda yang telah mengambil resiko serupa, makin membuktikan bahwa kepemimpinan lebih bertumpu pada kualitas memimpin. Dalam kepemipinan terkini, usia mungkin sebatas angka pengisi statistik. Lihat saja anak muda seperti Anas Urbaningrum, Mantan Ketua Umum PB itu atau Intelektual muda sekelas Anies Baswedan, Rektor Universitas Prof. Firmanzah, Ph.D yang dianugerahi predikat rektor termuda di Indonesia. Di lanskap politik global, ada Presiden Prancis, Emanuel Macron , dan juga mantan Presiden AS, Barack Obama, dan sejumlah pemimpin muda lainnya.
Kehadiran mereka itu, menunjukan bahwa semua model kepemimpinan muda itu bisa dibangun, dan memang perlu jadi perhatian organisasi kepemudaan sekelas HMI. Di HMI, kita masih jarang menemukan itu. Mungkin soal kebiasaan kita yang masih terkungkung dalam alur lama dibenarkan terus-menerus. Namun, alangkah bijaknya jika kita tak terus menerus membenarkan kebiasaan-kebiasaan itu, melainkan sebaliknya membiasakan diri untuk berkata benar, bahwa stock kepemimpan HMI hari ini, harus lebih banyak menampilkan anak-anak muda potensial.
Kepemimpinan memang tak melulu soal usia. Tapi politik yang minus kualitas, memotongnya dengan jenjang matematis : bahwa, ini soal usia. Model politik yang demikian, peduli pada rasio berkualitas . Disisi lain, yang masih jadi ukuran kita pada umumnya adalah : “lama tidaknya usia proses di organisasi”. Padahal pengalaman proses setiap generasi akan selalu berbeda.
Mereka yang pernah merasakan pengalaman organisasi di masa lalu, akan sulit untuk mengerti pengalaman organisasi hari ini. Meskipun memiliki segudang pengalaman. Ini akan menjadi parah, jika yang bersangkutan, juga tak melebur ke dalam model organisasi terkini. Bahkan parahnya lagi, jika ada kader yang telah lama berproses di organisasi, dalam jejak-rekamnya terbukti tak menghasilkan apa-apa.
Selama ini jenjang kaderisasi kita masih berkutat sebatas hal-hal itu. Pada akhirnya, mau tak mau beberapa sisi kualitas personal kader justru hilang ditelan tradisi organisasional seperti itu.
Padahal hari ini, anggapan-anggapan lama itu sudah tak lagi relevan. Anggapan-anggapan itu mesti dikritisi. Terima atau tidak, kita pada akhirnya bersepakat bahwa usia di organisatioris atau bahkan usia biologis tak bisa menjamin hadirnya sebuah terobosan. Bahkan batas-batas itu pada akhirnya harus digeser jauh-jauh hari saat kita datang ke model organisasi pasca-modern.
Terobosan-terobosan yang relevan dengan massanya cenderung dilakukan oleh sejumlah anak muda yang hidup pada masa itu. Anak muda punya kualitas untuk bergerak lebih jauh karena ia merasakan secara langsung kebutuhan zamannya. Kita tak bisa secara serampangan, menyerahkan semua kualitas atas nama usia apalagi tradisi organisasi.
Jika mau berubah, maka tradisi organisasi juga harusnya bisa berubah seiring perkembangan zaman. Tentu soal kehadiran anak muda diperlukan adalah soal siapa yang paling relevan dalam menawarkan sejumlah solusi bagi organisasi hari ini dan mendatang. Apalagi kerja-kerja organisasi kedepan adalah kerja kolaborasi. Berharap bahwa anak muda yang minim pengalaman, tak bisa berbuat banyak adalah keliru. Kerja organisasi kedepan akan lebih banyak berkutat pada kerja jejaring, kerja kolaborasi. Bukan kerja atas masa lalu.
Kita Butuh Kerja Kolaborasi
Kerja-kerja organisasi kedepan adalah soal kerja kolaborasi. Sulit untuk membayangkan kerja kompetisi. Itu bukan zamannya lagi. Kita sedang berorganisasi di masa pasca-modern. Seluruh gerak organisasi bekerja karena saling membutuhkan. Bahkan terkoneksi dengan kemajuan teknologi, dan kerja-kerja kolaborasi.
Jadi, apakah pengalaman organisasi akan selamanya menentukan semuanya itu ?. Jawaban rasionalnya tidak. Semua orang akan datang dengan pengalaman yang berbeda-beda untuk disatukan dan saling melengkapi. Tidak ada yang mau bekerja untuk saling melampaui. Itu model kerja perusahan swasta, yang sasarannya adalah profit. HMI bukan organisasi profit atau selayaknya perusahan swasta.Bagaimanapun segala persoalan pada akhirnya adalah persoalan mengenai kebutuhan bersama. Sehingga cara menyikapinya membutuhkan kolaborasi.
Namun jika saja yang kita harapkan adalah pengalaman tunggal seorang pemimpin dalam menentukan arah dan kerja organisasi, maka akibat yang paling mungkin adalah akan terjadi kompetesi dan penyeragaman gagasan berdasarkan pengalaman yang dimiliki si pemimpin. Ini tak baik dalam iklim organisasi. Apalagi HMI. Kerja-kerja organisasi kedepan akan naik satu tingkat : dari kompetisi ke kolaborasi.Dimana semua orang datang dengan pengalaman berbeda-beda untuk disatukan dalam menangani masalah organisasi yang nantinya berbeda-beda pula.
AM dengan modal pengalaman yang dimilikinya selama ini, bisa terbantukan karena kerja-kerja kolaborasi seperti itu. Model kolaborasi itulah yang sebenarnya sedang didorong.
Seorang Muda yang Masih Mahasiswa
AM juga memiliki bonus yang tak biasa sebagai calon ketua umum. Diantara sejumlah calon ketua umum di HMI Cabang Ambon, AM-lah yang paling muda sekaligus masih tercatat secara akademik sebagai mahasiswa yang sedang menjalani semester aktif. Statusnya sebagai mahasiswa akan sangat mendukung saat dia memimpin HMI Cabang Ambon. Ini adalah ruang yang dengan mudahnya dapat dimanfaatkan oleh AM untuk merespon sejumlah dinamika kemahasiswaan secara up to date. Ia tentu tidak saja menjadi yang pihak kedua yang terkait dengan dinamika kemahasiswaan karena berhimpun di HMI saja, melainkan juga merasakan secara langsung dinamika kemahasiswaan itu. Keterlibatannya sebagai mahasiswa aktif, akan lebih banyak memperkuat gerakan sosial dan gerakan intelektual HMI di sejumlah perguruan tinggi di Ambon.
Status kemahasiswaannya akan sedikit banyak mendekatkan HMI dengan gerakan sosial mahasiswa di kampus menjadi lebih relevan lagi. Apa yang ia respon terkait dinamika kemahasiswaan pada akhirnya adalah soal apa yang ia rasakan secara langsung. Gerakan-gerakan kemahasiswaan yang ia dorong tentunya, akan lebih banyak berdasarkan pengalamannya secara langsung sebagai mahasiswa. DIsisi lain Posisinya sebagai mahasiswa juga akan memudahkan kordinasi dan sinergi kampus dan HMI, utamanya dalam pengarusutamaan wacana intelektual, sekaligus merespon gerakan-gerakan kemahasiswaan tadi.
Loncatannya untuk mencalonkan saat masih menjadi mahasiswa tentu bukan melampui proses kaderisasi, melainkan menunjukan capaian prestasi kepemimpinannya di HMI. Artinya semenjak muda saja kader HMI itu, telah menorah sejumlah prestasi kepemimpinan. Ini yang mesti kita siapkan, agar rotasi kepemimpinan/kaderisasi di HMI lebih berjalan cepat. Cepatnya kaderisasi kepemimpinan di tubuh HMI justru pertanda bahwa, roda organisasinya begitu produktif dalam menciptakan sejumlah anak-anak muda pemimpin. Narasi seperti itulah yang harusnya dibangun.
Dalam model kepemimpinan hari ini, salah satu penyebab regenerasi menjadi lambat adalah, kepemimpinan anak muda berkualitas masih dilihat sebelah mata oleh para “orang tua” yang merasa terancam. Padahal kepemimpinan selain berkaitan dengan kualitas personal, ia juga akan semakin terbantukan dengan kepatuhan kolektif yang rasional. Apalagi jika kita hendak mendiskusikan kepemimpinan di HMI. Organisasi yang didalamnya “berdomisili” sejumlah kelompok intelektual.
Model Organisasi Relevan
Selain bertumpu pada perampingan struktur organisasi, batasan-batasan usia dan pengalaman itu tak menjamin kemajuan organisasi modern hari ini. Akses teknologi yang demikian luas, ruang terbuka pengetahuan yang lapang, dan interaksi manusia hari ini, pada akhirnya akan memaksa semua orang untuk berhenti menghitung sisi usia biologis itu.
Dulu saat manusia primitf hanya berdebat soal tanah. Perdebatan itu melahirkan pemisahan manusia dalam struktur kekuasaan “bangsawan dan tuan tanah”. Masuk ke dunia modern, manusia modern berdebat soal “mesin produksi” yang kemudian memisahkan mereka ke dalam kategori “borjuasi dan proletar”. Hari ini kita tak lagi hidup didunia rimitif dan bahkan bukan lagi di dunia modern itu, melainkan telah bergeser ke pasca modernitas (post-modern).
Organisasi di Abad-21 tak menawarkan sejumlah pemisahan itu. Ia malah menempatkan semua orang dan model organisasi terbarukan pada proses penguasaan informasi dan pengetahuan. Dunia organisasi yang mengasharuskan setiap orang untuk berkolaborasi dengan modal pengetahuan. Dalam dunia organisasi yang begini, apakah kita masih merasa digdaya untuk mempertahankan tradisi-tradisi usang terdahulu ?. Atau malah kita harus bergerak melakukan sejumlah terobosan. Persis pada alasan ini, upaya mendorong AM, adalah pertimbang paling relevan. Bagaimana HMI Cabang Ambon, diposisikan relevan dengan kebutuhan hari ini.
Warna Organisasi adalah Warna Pendapat Kadernya
Tentu akan ada banyak pertimbangan soal ini. Ada yang melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Apalagi, ini berbeda dengan tradisi organisasional yang telah lama dipertahankan. Namun pada akhirnya, pertimbangan-pertimbangan itu akan mencitrakan diri kita masing-masing. Apakah lapis pemikiran kita sedang berada pada era primitif, modern atau bergerak naik satu tingka ke post-modern ?.
Kita hanya punya dua pilihan, apakah tradisi tersebut haraus dipelihara dan mengorbankan sejumlah terobosan hari ini atas nama “kebiasaan terdahulu”, atau kita malah bergerak jauh, untuk menjawab kebutuhan organisasional hari ini hingga waktu-waktu mendatang. Satu yang pasti, Wajah HMI mendatang selalu diukur dari warna pikiran kadernya. Jika HMI terus bergerak ke depan, sedangkan warna pemikiran kadernya masih tertinggal di belakang, bukankah itu pertanda bahwa “insan akademis itu sedang memutar roda organisasi ke belakang” ?.
Opini oleh : #UntukKemajuan Marketing Team

0 Comments