Harapan Pembangun Terminal Di Kota Padang


Oleh:
Habibullah Al Amnur
Direktur LEMI Cabang Padang
Mahasiswa FE UNP

Kota Padang merupakan ibu kota provinsi Sumatra Barat dan sekarang statusnya sudah menjadi kota metropolitan yang mana menuntut akses transportasi dan ekonomi yang baik bagi masyarakat. apabila menilik sejarah masa lalu, dulunya kota Padang mempunyai terminal bus baik antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP) di areal Plaza Andalas sekarang. Namun sejak tahun 1998 terminal baru dibangun di kawasan Aia Pacah dengan nama Terminal Regional Bengkoang, atau kantor Walikota Padang sekarang. Dulunya, terminal Aia Pacah adalah terminal tipe A, yang sanggup menampung banyak bus didalamnya. Tapi, sejak diakifkan kembali pada tahun 2002 kondisinya kurang lebih sama dengan tahun 1998, terminal tersebut sunyi karena terlalu jauh dari pusat kota sebagai basis perekonomian dan tidak didukung moda transportasi ke Aia Pacah, kuat dugaan pembangunan di daerah tersebut tidak melalui kajian yang mendalam.

Kondisi tersebut memaksa para pengusaha bus harus berinisiatif membuka depot dan sudah menjelma seperti terminal bayangan di kawasan Air Tawar, depan Universitas Negeri Padang dan di Bandar Buat. Selama bertahun-tahun kondisi tersebut dijalani oleh para pengusaha bus agar usahanya tidak mati dan karyawannya juga bisa tetap makan untuk anak istri.

Pada tahun 2012, muncul kembali wacana pembangunan kembali terminal di kawasan Anak Aia, Koto Tangah dan akan selesai pada tahun 2018 ternyata sampai sekarang juga tidak nampak wujudnya. Sunyi pemberitaan, dan muncul kembali wacana tersebut pada tahun 2015, dan bisa dibayangkan seperti pada tahun 2012 terminal tersebut masih juga dalam tahap perencanaan. Tak disangka, pada tahun 2018 ground breaking dilakukan, Walikota Padang, Mahyeldi dan menteri Perhubungan, Budi Karya turut hadir. Pembangunan tersebut ditargetkan akan selesai pada tahun 2020 seperti yang dilansir Detak Sumbar. Namun, hal berbeda diungkap oleh Info Publik bahwa pembangunan ditargetkan pada tahun 2021. Hal tersebut tentu membingungkan masyarakat kota Padang karena telah lama berharap agar terwujudnya terminal yang layak. Dilansir dari Padang Ekspress, pembangunan terminal tersebut mandek dan hanya dilakukan pnimbunan saja, tidak ada perkembangan berarti. Kondisi tersebut diperkirakan mengakibatkan pembangunan terminal akan lebih molor daripada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Alasan dibangunnya terminal di Anak Aia yang jauh dari pusat perekonomian, kawasan penduduk dan moda transportasi banyak yang berpandangan skeptis karena nasibnya tak akan jauh beda  dengan Terminal Regional Bengkoang. Semoga Pemko Padang sudah melakukan kajian mendalam pemilihan terminal di Anak Aia yang menelan biaya sebesar Rp 7,5 milyar dengan luas 5 hektar dan akan didukung dengan terminal tipe C di beberapa kawasan. Apalagi angkot pada tahun 2021 sudah tidak diperbolehkan lagi melaju di jalur utama dan akan dialihfungsikan ke jalur alternatif seperti angkot trayek Tunggul Hitam dan digantikan dengan Trans Padang di jalur utama. Sebaiknya, sebelum rampung terminal tersebut Pemko Padang dari sekarang harus membangun beberapa halte Trans Padang ke jalur By Pass di beberapa lokasi seperti di jalur Lubuk Buaya-Lubuk Minturun dan Pasar Raya-Lubuk Kilangan hingga ke terminal Anak Aia lebih dahulu.

Harapannya, dengan dibangunnya terminal akan berdampak pada perekonomian masyarakat kota Padang agar lebih baik lagi, meningkatkan kontribusi Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) sehingga penopang perekonomian kota Padang dari sektor wisata dan jasa semakin maksimal.

Trotoar Semakin Bagus, Tapi...

Bagaikan buah simalakama, pembangunan trotoar di beberapa titik seperti di Pasar Raya, kawasan Imam Bonjol, kawasan Pantai Padang memang semakin bagus dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kota Padang. Akan tetapi di ruas jalan Hang Tuah, apabila hujan maka air akan tergenang  cukup banyak di sisi jalan dan bahkan air tersebut masuk ke area gedung. Seperti di Wisma HMI/KAHMI Kota Padang yang berlokasi di jalan Hang Tuah, semenjak dibangunnya trotoar tersebut Wisma HMI sering kebanjiran dan sering mengganggu aktivitas sehari-hari apabila hujan.

Sebelumnya juga sudah dilakukan audiensi juga ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kota Padang, namun sampai sekarang tidak ada respon dari instansi terkait. Sebagai bagian dari warga kota Padang tentu sangat menyayangkan hal tersebut, karena keluhan tidak dapat tanggapan positif dari pihak Pemko kota Padang. Apabila trotoar tersebut semakin bagus dan diperindah agar ramah wisatawan tetapi sistem drainasenya yang buruk juga bisa menjadi catatan negatif juga dari para wisatawan. Harapannya, Dinas PUPR dapat agar dapat segera memperbaiki trotoar yang telah dipercantik tersebut dengan menelan anggaran yang sangat besar akan tetapi tidak maksimal dalam penggunaannya karena juga dapat respons yang negatif dari wisatawan dan penduduk di area jalan tersebut.

0 Comments