Stagnansi Pembangunan Di Sumatera Barat "Pemerintah Dan Milenial Saatnya Untuk Berbenah!"


Oleh :
Nova Agus Santi
(Fungsionaris DPC IMAPAR STKIP PGRI Sumbar / Anggota Biasa HMI Komisariat STKIP PGRI Sumbar)


Artikel yang  baru-baru ini muncul tentang Stagnansi pembangunan sumatera barat yang mengatakan pembangunan SUMBAR adalah sebuah kegagalan yang dikarang oleh ferdy andika, sekretaris jenderal Aliansi Mahasiswa Dan Pemuda Rantau asal Sumatera Barat yang disingkat dengan (AMPERA SUMBAR) disitus suara merdeka.id pada tanggal 7 juli 2019 yang lalu.

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang kaya akan Sumber Daya Manusia (SDM) nya, dapat dilihat dari banyaknya jumlah warga dari setiap kabupaten/kota juga dapat dilihat dari banyaknya generasi yang sedang menempuh dunia pendidikan. Akan tetapi belum dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang masih banyak dan belum dimanfaatkan. Berdasarkan artikel tersebut dapat disimpulkan stagnansi yang dimaksud adalah kurangnya kemampuan dalam mengembangkan potensi yang ada dan ketidakmampuan dalam mengemas produk local yang dimiliki oleh provinsi Sumatera Barat atau yang disingkat dengan kata SUMBAR ini.

Kurang Maksimalnya Kinerja Pemerintah
Penyebab kemiskinan dan kegagalan pembangunan dinegara dunia ketiga bukan karena keterlambatan melakukan modernisasi, tapi juga karena campur tangan negara lain, begitulah inti dari teori ketergantungan yang ditulis dalam buku yang berjudul Kebebasan, Negara, dan Pembangunan yang ditulis oleh Arief Budiman (2006). Kata dunia ketiga ditujukan kepada Negara berkembang, termasuk Indonesia. Dikarenakan individualism ataupun ketidakmampuan mengeluarkan ide atau gagasan karena kurangnya apresiasi terhadap mereka yang mampu mengeluarkan ide.

Kita tau bahwa Sumatera Barat yang disingkat dengan kata SUMBAR ini memang identik dengan kawasan pertanian dan wisata. Sumbar memiliki 12 kabupaten, 7 kota, 147 kecamatan dan lebih kurang 5.511.246 orang berdasarkan survey pada tahun 2018,  yang didalamnya sebagian besar masyarakat sangat bergantung pada pertanian. Dari beberapa kabupaten dapat kita temui seperti,  kabupaten solok yang terkenal dengan “bareh solok” nya, kabupaten pasaman yang terkenal dengan sawitnya, kabupaten padang pariaman yang identik dengan perkebunan kelapanya dan masih banyak lainnya, tapi apakah peran pemerintah sudah cukup untuk mengembangkan potensi yang ada?
Selanjutnya wisata alam yang dimiliki oleh setiap daerah kabupatennya contohnya saja kabupaten padang pariaman yang identik dengan wisata pantai dan berbagai wisata lainya seperti nyarai digamaran.

Seharusnya pemerintah maupun lembaga daerah yang terkait mampu memberikan suguhan yang baik karena tidak hanya penduduk local yang berwisata ketempat tersebut melainkan juga warga asing yang dating menikmati indahnya suasana nyarai tersebut. Jika ditelusuri lebih dalam begitu banyak pemasukan yang bias didapatkan dari wisata-wisata yang ada diprovinsi sumbar ini.

Peran Generasi Milenial

Bukan hanya kinerja pemerintah daerah yang patut dikomentari saat ini tapi juga pemuda-pemudi, mahasiswa yang ada diprovinsi sumbar tersebut, mengapa saya katakan begitu karena peran dari pemuda-pemudi yang termasuk didalamnya juga mahasiswa yang duduk diperguruan tinggi, yang memiliki ide kreatif, inovatif juga termasuk factor pendorong dari pembangunan daerah tersebut. Sebagai generasi milenial yang dikatakan sebagai pribadi yang berfikiran terbuka, pendukung kesetaraan hak, yang seharusnya juga dapat berperan aktif dalam pembangunan dan pengembangan daerah kita yang kaya ini.

Pemerintah daerah sudah berupaya dalam mengembangkan potensi maupun memberikan peluang dalam mengembangkan produk yang ada, seperti kemandirian dan system otonomi daerah, tapi juga didalamnya dibutuhkan peran dari masyarakat serta pemuda-pemudi dalam penerapannya. Butuh keseimbangan dalam mengembangkan potensi yang ada jika saja hanya pemerintah daerah yang mendominasi mengenai pengembangan daerah, padahal kita memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dibidangnya masing-masing.

Seorang yang dikatakan milenial adalah mereka yang memiliki pemikiran yang terbuka dapat memberikan ide atau kontribusi kepada pemerintah atau lembaga terkait yang bisa menjalankan ide tersebut untuk memajukan daerah kita ini. Dalam artikel yang dituliskan oleh Aufa Syahrizal Sarkomi,SP.,MSC (ketua PPI SUMSEL 2009-2017) mengatakan”Ide-ide segar pemikiran yang kreatif dan inovatif diyakini mampu mendorong terjadinya transformasi dunia kearah yang lebih baik. Generasi milenial dianggap sebagai calon pemimpin baru yang akan membawa perubahan kearah yang lebih baik”.

Jika semua elemen yang terkait sudah menyatu dan sepemikiran maka akan tercipta keselarasan antara pemerintah dan masyarakat serta pemuda-pemudi sebagai patokan yang akan menjalankan ide-ide dan gagasan yang telah disepakati. Semua elemen harus mampu membaca peluang dan tantangan yang ada dan apa solusi yang harus diterapkan tanpa mengganggu pembangunan dalam berbagai bidang satu sama lainnya. Sehingganya satu kesalahan pada satu bidang tidak mengganggu bidang yang lainnya.

Saatnya Berbenah

Seandainya semua provinsi mampu memberikan kebebasan dan keterbukaan kepada masyarakat serta   pemuda dalam memberikan ide tau gagasannya , tentu dapat membantu krisis yang dihadapi setiap kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Maka akan terjadi pembangunan yang lancar dan tidak terjadinya stagnansi pembangunan yang sampai saat ini masih belum ada jalan keluarnya (SUMBAR). Maka dari itu sudah saatnya untuk berbenah, sangat dibutuhkan kinerja baik yang sustainable dari pemerintah daerah maupun pemikiran positif masyarakat disertai dengan gagasan dari pemuda-pemudi dan mahasiswa sebagai seorang yang indenpenden. Tentunya akan tercipta daerah yang mampu mencukupi kebutuhan sendiri serta memajukan provinsi kita ini dan mampu bersaing di era globalisasi.

Istilah minang yang sangat terkenal mengatakan“ barayia sawah diateh, lambok sawah dibawah” yang dapat diartikan sebagai majunya sebuah provinsi tentunya juga memberikan kontribusi untuk kemajuan  Negara.

0 Comments