Coffee Shop dan Tren Lainnya

Oleh : Haldi Patra

Hari ini kopi tengah menjadi primadona di Indonesia. Sebenarnya, budaya minum kopi sudah ada semenjak dahulu. Orang-orang menggunakan kopi dalam untuk menemani mereka berkumpul dan bersosialisasi. 

Hampir di setiap daerah terdapat kedai-kedai kopi tradisional yang selalu ramai dikunjungi. Disana, kopi disajikan secara sederhana. Kopi bubuk dicampur dengan air panas –dengan takaran gula tertentu tergantung si pemesan, kadang ditambah susu dan dijual dengan harga yang murah.

Namun, belakangan ini cara penyajian kopi menjadi lebih canggih. Kopi yang disajikan bukanlah kopi bubuk seperti di kedai kopi tradisional. Kita bisa memilih jenis kopi Rebusta atau Arabica. Mereka menawarkan sajian kopi dengan berbagai cara dan teknik penyeduhan untuk menghasilkan berbagai macam piihan, seperti vietnam drip, expresso, capuccino dan lain-lain. Untuk Kota Padang saja, tidak terbilang jumlahnya tersedia coffe shop. 

Mulai dari yang diusahakan di halaman rumah dengan sederhana bahkan coffee shop yang bermodal puluhan juta. Di sana, berjejarlah anak-anak muda menghabiskan malam. 

Saat berada di coffee shop, tidak mudah untuk tidak tergoda untuk memfoto kopi, mengirimkannya ke media sosial lalu menulis kalimat-kalimat filosofis. Kata-kata kopi, senja dan hujan menjadi sangat populer. Secangkir kopi untuk menikmati senja yang indah. Tulisan-tulisan itu menjadilebih ‘syahdu’ jika dikaitkan dengan perayaan patah hati.

Kini kopi bukan hanya sebagai pengusir kantuk, melainkan telah menjadi gaya hidup. Orang-orang rela membeli segelas kopi yang kadang harganya lebih mahal dari sepiring nasi. Membuka kedai  kopi nampaknya sedang menjadi bisnis yang menggiurkan dan menjadi barista merupakan profesi keren untuk saat ini. 
Tren Lainnya Belakangan ini.

Sebelum demam kopi melanda, demam kembali ke alam terlebih dahulu menjangkit anak-anak muda. Jika ada yang mengatakan bahwa demam kopi ini dimulai saat film Filosofi Kopi (2015) meledak di pasaran, maka demam kembali ke alam ditandai dengan booming-nya 5 cm (2012) dan My Trip My Adventure (2013-)yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta. 

Memang hal ini masih membutuhkan diskusi lebih mendalam, namun kita tidak bisa untuk tidak menampikan teori awal bahwa media berpengaruh dalam membentuk budaya populer. 

Sebelum berfoto di coffee shop atau memfoto kopi adalah hal yang keren, berfoto dengan menyandang carrier di puncak gunung, tepi pantai atau di air terjun adalah hal yang keren. 

Maka berbondong-bondonglah anak muda mendaki gunung, menyeberangi laut dan menelusuri hutan. Hal ini sering disesalkan oleh para pencinta alam yang menganggap alam menjadi kotor karena dikunjungi oleh mereka yang tiba-tiba menjadi pecinta alam karena mengikuti tren. 

Saya tidak tahu dengan daerah lainnya, namun membuka usaha rental peralatan outdoor juga pernah menjadi bisnis yang menggiurkan beberapa waktu yang lalu di Kota Padang. Setiap sesuatu hal sedang menjadi tren, maka itu akan menjadi peluang bisnis yang menggiurkan bagi mereka yang mampu untuk melihat peluang.

Selanjutnya, mari kita mundur lebih ke belakang. Demam fotografi dengan menggunakan kamera digital single lens reflect (DSLR) juga pernah melanda sebelum anak-anak muda. Siapapun yang menyandang kamera DSLR adalah orang-orang yang dianggap sangat keren pada waktu. Namun fotografer adalah hobi yang mahal sehingga demam ini tidak terlalu mewabah dan hanya dapat dinikmati segelintir kalangan. 

Kini DSLR tidak lagi menjadi primadona. Kamera dari ponsel pintar telah memiliki resolusi kamera yang tinggi dan mirror less tampaknya lebih digandrungi bagi fotografer amatir. Dibandingkan dengan DSLR yang lumayan besar dan berat, mirror less memiliki ukuran yang lebih kecil dan praktis dibawa-bawa.  

Jika kita terus mundur sedikit lebih ke masa sebelumnya, maka akan didapati anak-anak muda digandrungi demam bermain musik di studio band. Festival band ramai diadakan. Lalu bermunculan grup band yang mencoba untuk menembus industri musik. Hari ini, nge-band kiranya tidak lagi menjadi tren. Sedikit sekali kita melihat band-band baru bermunculan. Bayangkan dengan beberapa tahun lalu, hampir setiap minggu band-band baru muncul dan mengeluarkan album. 

Tentu kita pernah melihat kedai kopi, hutan, air terjun, pantai dan gunung, studio band adalah objek yang sangat ramai dikunjungi. Ketika musim berganti, tempat-tempat itu mulai dilupakan. Namun semua tren itu tidaklah bertahan lama. Ketika suatu tren meledak di masyarakat, semua hal berkenaan tentang hal itu menjadi begitu digemari. Masyarakat berbondong-bondong mengikutinya. 

Ketika tren berganti dan muncul tren yang baru, mereka akan meninggalkannya dan mengikuti tren yang baru. Kemudian hanya orang-orang yang benar-benar memiliki minat yang tetap menjalankan tren itu.

Menarik untuk menyimak sampai kapankah tren kopi in mewabah. Lalu tren apalagi yang akan datang dan menggantikan kepopuleran kopi hari ini?   

0 Comments