Ekspektasi VS Realita Kurikulum 2013 (K13)



Oleh : Zulfadli Akbar
(Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat & Anggota Biasa HmI Komisariat STKIP PGRI Sumatera Barat)

Menurut Undang-Undag No. 20 tahun 2003, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang mengenai tujuan, isi, bahan ajar dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar untuk mendapatkan sebuah tujuan pendidikan Nasional.

Dalam sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia, sudah terjadi beberapa pergantian kurikulum, diantaranya: Kurikulum 1947 – Kurikulum 1952 – Kurikulum 1964 – Kurikulum 1968 – Kurikulum 1975 – Kurikulum 1984 – Kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1994 – Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Komputer) – Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) – Kurikulum 2013.

Kurikulum yang diterapkan saat ini adalah kurikulum 2103. Kurikulum dengan system student’s center learning ini sudah diterapkan sekitar 6 tahun lalu. 2013 tepatnya, adalah tahun percobaan dengan menjadikan beberapa sekolah sebagai sekolah rintisan, jumlah sekolah yang menjadi sekolah perintis ini sebanyak 6.326 sekolah yang tersebar diseluruh provinsi di Indonesia. Kurikulum 2013 diimplikasikan secara terbatas pada sekolah perintis, yakni kelas I dan IV pada jenjang Sekolah Dasar (SD), kelas VII jenjang SLTP, dan kelas X jenjang SLTA.

Kurikulum 2013 ini merupakan kurikulum yang terintegrasi. Maksud dari integrasi disini adalah kurikulum yang mengintegrasikan skill (kemampuan), theme (tema), concept (konsep), and topic (topik) baik dalam bentuk within single discipline, acrous several discipline, and within and acrous learners.

Kurikulum 2013 mengalami revisi pada tahun 2014. Titik tekan revisi kurikulum 2013 adalah pembelajaran 4C (Communication, colaboration, creatifity dan critical thinking) artinya siswa pandai berkomunikasi dengan baik, mampu bekerja sama, mencari dan menciptakan hal baru, dan berfikir tingkat tinggi.

Untuk mewujutkan tujuan utama dari kurikulum 2013 ini, tentu banyak aspek yang harus dipersiapkan secara matang. Aspek ini meliputi fasilitas, pembiayaan, kualitas guru, serta kematangan pemerintah dalam menerapkan sistem pendidikan yang baik. Semua aspek ini memiliki fungsinya masing-masing. Fasilitas misalnya, dengan baiknya fasilitas pendidikan maka secara tidak langsung proses pembelajaran peserta didik akan berjalan dengan lancar.
Pertanyaannya, bagaimana dengan realita yang terjadi? Apakah kurikulum 2013 ini sudah diterapkan secara maksimal?

Namun kenyataannya, masih banyak fasilitas pendidikan dalam hal ini sekolah yang bisa dikatakan belum layak. Ini terjadi dibeberapa daerah di Indonesia, contohnya di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Dalam buku 370 hari bersamamu karya Melly Sandi, seorang Volunteer Pendidikan menggambarkan situasi sekolah yang ada disana. Ruang kelas serta sarana dan prasarana sekolah belum memadai, sehingga proses belajar mengajar tidak bisa dilaksanakan secara maksimal.

Hal yang hampir serupa terjadi di SMAN 8 Sijunjung, SMA yang ada di ranah Lansek Manih ini belum memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang proses belajar peserta didiknya. Laboratoriom IPA yang belum memadai, perpustakaan yang belum lengkap. Dengan kondisi fasilitas seperti ini, pengembangan keterampilan peserta didik belum bisa tersalurkan secara optimal.

Aspek lain yang harus diperbaiki adalah kualitas dari tenaga pengajar yakninya guru. Kemampuan dan keahlian guru yang mumpuni sangat mempengaruhi terhadap perkembangan karakter dan keterampilan dari peserta didik. Seorang guru diharapkan memilki Growth Mindset yang baik, sehingga mampu menerapkan sistem pembelajaran student’s center learning dengan baik pula.

Aktualisasi metode belajar yang kreatif dan menyenangkan dari tenaga pengajar, juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lancar dan suksesnya penerapan sistem student’s center learning tersebut. Karena dengan metode megajar yang kreatif akan meningkatkan minat dari peserta didik untuk menuangkan kemampuan yang dimilikinya, sehingga potensi yang ada akan tersalurkan.

Selain cara atau metode belajar yang kreatif dan menyenangkan, seorang tenaga pendidik (Guru) harus mampu memberikan kontribusi terhadap perubahan sikap, keterampilan dan pengetahuan disetiap mata pelajaran yang diajarkannya. Dengan adanya kontribusi guru dalam perubahan sikap peserta dididknya, maka hasil dari pembelajaran tersebut tidak hanya mempertajam nilai akademis peserta didik, tetapi juga menghasilkan peserta didik yang memiliki atitude yang mantap.

Namun realitanya, sebagian guru hanya memberikan materi pelajaran secara monoton saja, tanpa memasukkan nilai-nilai sikap dan karakter dalam pelajaran tersebut. Hal ini tentu berefek kepada peserta didik, contohnya tidak sedikit siswa yang melawan kepada orang tua dan gurunya. Bahkan sampai ada yang berani membunuh gurunya. Dalam kasus seperti ini, tentu akan menghilangkan salah satu dari dua unsur kecakapan seorang guru, yaitu Diguguh dan Ditiru.

Dengan memperbaiki dua aspek diatas yakninya Fasilitas pendidikan dan kualitas tenaga pengajar, insha Allah Penerapan kurikulum 2013 akan berjalan dengan baik dan lancar. Untuk memperbaiki hal tersebut, tentu kontribusi dari berbagai elemen harus ada. Seperti   guru, pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Dengan kontribusi yang baik dan apik dari berbagai elemen tersebut, tentu goalnya adalah menjadikan anak-anak Indonesia selaku penyambung estafet masa depan bangsa,menjadi anak-anak yang cerdas, kreatif dan inofatif.

Harapan kita semua tentunya adalah mudah-mudahan sistem pendidikan di Indonesia berjalan dengan baik dan lancar. Sehingga dengan sistem pendidikn yang baik, kualitas manusia Indonesia akan lebih baik pula.

Editor : Rimba

0 Comments