Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Di Papua



OLEH
Ismail Munadi Sangadji, SP, M.Si
Akademisi Universitas Muhammadiyah Sorong

Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia, dengan perbandingan luas perairan dan daratannya sebesar 3:2. Karakteristik ini tentu  menjadi determinasi bagaimana perkembangan latar kebudayaan bangsa indonesia menjadi  negara berkembang dari sektor kemaritiman dan kebudayaan maritim. Hanya saja, dibandingkan dengan peradaban agraris kontinental, selama puluhan tahun Indonesia berdiri, pembangunan dunia maritimnya sepertinya kurang mendapat sentuhan kebijakan dari pemerintah.

Tema besar pembangunan lebih ditekankan di bidang kelautan dan perikanan tentunya menjadikan sumber daya manusia menjadi sasaran utamanya. Nelayan, sebagai pemangku kepentingan utama pada sektor produksi ekonomi kelautan dan perikanan, semestinya menjadi sasaran utama pembangunan sektor hulu mencapai pemerataan.

Selama ini, bisa jadi pemerintah menganggap telah melakukan peluncuran berbagai program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat pesisir di papua. Berbagai program bidang kenelayanan telah dilangsungkan dari tahun ke tahun dan berlangsung sejak lama. Akan tetapi pada kenyataannya nelayan di papua menempati posisi teratas dalam daftar atau indeks kemiskinan dibandingkan profesi lainnya. 

Menjadi ironi bahwa mereka yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam paling melimpah negara ini justru menjadi manusia-manusia yang paling tidak sejahtera.

Tak bisa dipungkiri bahwa kehidupan nelayan juga di papua saat ini masih sangat memprihatinkan dari waktu ke waktu. Mereka hidup di tengah keterbatasan akses ekonomi dan sosial, dan di tengah melimpahnya sumberdaya ikan. Kondisi kampung nelayan yang kumuh, sanitasi yang buruk, pemukiman yang tidak tertata dan kelembagaan ekonomi nelayan yang masih tradisional merupakan potret buram sebagian besar kampung-kampung nelayan di papua sendiri yang telah hilang propesi nelayanya lantaran beralih ke pertanian sub sistem.

Upaya untuk menaikan status dan kelas kehidupan nelayan di papua yang tengah terbelenggu dengan masalah struktural dan kultural yang kompleks. Kelompok nelayan mestinya mendapat perlindungan dan perhatian dari negara, karena kelompok ini sangat rentan terhadap perubahan sosial dan ekonomi lingkungan yang dihadapi dimasa kini dan dimasa yang akan datang.

Beragam perihal tersebut mengisi daftar panjang kurang efektifnya paradigma pembangunan dunia maritim khususnya di wilayah papua yang selama ini digagas oleh pemerintah. Berbagai program pemberdayaan, kesejahteraan, bantuan-bantuan telah banyak digalakkan. Hasilnya, seperti yang telah diungkap, nelayan tetap saja kurang berdaya, menjadi warga negara dengan rata-rata terjadi ledakan angka kemiskinan yang kian pantastis. Permasalahan utamanya terletak pada model paradigma pembangunan yang diterapkan, yaitu teknokrasi. Kelemahan paradigma ini adalah kurang memperhatikan unsur-unsur sosial budaya kenelayanan dalam menjalankan program-program yang dimaksud.

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Kenelayanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap tahun lalu (2015) meluncurkan Program Seribu Kampung Nelayan Mandiri, Indah, Tangguh, dan Maju (Sekaya Maritim). Program ini merupakan implementasi gagasan besar kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang dikenal dengan Poros Maritim, salah satu poin terpenting yaikni Nawacita yang artinya membangun Indonesia dari pinggir.

Hal baru yang diterapkan dalam program Sekaya Maritim adalah selain menyalurkan bantuan berupa pembangunan fisik dan penyediaan sarana-prasarana perikanan tangkap, juga melakukan pendampingan atau fasilitasi berparadigma pembangunan partisipatif pada penguatan dan peningkatan kapasitas nelayan atau kelompok-kelompok nelayan.

 Pendampingan fasilitatif ini perlu diberi highlight, sebagai upaya mengurangi tingkat kegagalan pada keberlanjutan pemanfaatan dan peningkatan kesejahteraan seperti yang telah dialami program-program pemberian bantuan serupa pada kesempatan-kesempatan sebelumnya.
Program Seribu Sekaya Maritim diluncurkan pada tahun 2015 merupakan program bantuan kepada nelayan di kampung-kampung yang berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau Pelabuhan Perikanan (PPI) melalui kelompok-kelompok usaha nelayan tangkap dan koperasi nelayan. 

Program ini dibawahi Direktorat Kenelayanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tujuan program ini adalah peningkatan kesejahteraan nelayan melalui peningkatan produksi perikanan dan mengurangi kemiskinan rumah tangga nelayan. Sasarannya adalah pengembangan kampung (desa/ kelurahan) nelayan pada 100 lokasi di 31 PPI yang tersebar di 31 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

Kegiatan Sekaya Maritim meliputi pembangunan Balai Sekaya Maritim untuk penguatan kelembagaan; motor bengkel dan kontainer bengkel untuk menjamin kampung nelayan lebih indah; dan pembangunan rumah nelayan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di diberbagai Provinsi di Indonesia.

Selain itu, penguatan ekonomi nelayan diperkuat melalui penyediaan sumber pembiayaan yang mudah, murah, dan aksesibel, mata pencaharian alternatif di musim panceklik, dan fasilitasi penyediaan aset nelayan yang dapat didayagunakan melalui sertifikasi hak atas tanah nelayan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

Peluncuran Program Sekaya Maritim lebih menekankan pentingnya membaca potret kehidupan nelayan, urgensi pengorganisasian dan pemberdayaan kelompok nelayan melalui KUB dan Koperasi diarahkan untuk mendorong masyarakat agar berdaya secara ekonomi dan sosial. 

Dengan demikian pengalokasian sumberdaya infrastruktur usaha perikanan dan pendukungnya lebih dikedepankan untuk mendorong pembangunan secara bekelanjutan. Selain itu, Sekaya Maritim juga menelisik peluang serta tantangan dalam pengembangan usaha dan intervensi rantai pasar perikanan berbasis pelabuhan seperti TPI/PPI.

Melalui Sekaya Maritim, pemerintah ingin membuktikan bahwa negara telah berupaya dan akan terus hadir di kampung-kampung nelayan dari ujung barat Sumatera hingga timur Papua, dari ujung selatan Nusateggara hingga ujung utara Sulawesi Utara. Negara akan selalu ada di kampung-kampung nelayan Nusantara.

Membangun Kesadaran Paulo Freire Terhadap Fasilitasi Dan Pendampingan Masyarakat Papua

Tema strategi pendampingan program kampung nelayan dilukiskan dalam gagasan Paulo Freire tentang kesadaran manusia memiliki tiga tingkatan, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis digambarkan sebagai kesadaran paling rendah yang dimiliki oleh manusia. Masyarakat digambarkan sebagai pihak yang tidak dapat mengobyektifikasi fakta, masyarakat kurang memiliki persepsi struktural sehingga kenyataan hidup adalah superealitas (sesuatu yang ada di luar kenyataan obyektif).

Kesadaran magis yang berkembang disebut kesadaran semi intransitif. Freire menjelaskan bahwa perkembangan itu terjadi karena digerakkan oleh kekerasan-kekerasan dan penindasan hingga pada titik klimaks. Pada wilayah ini masyarakat mulai sadar bahwa ia tertindas, hingga membawa mereka untuk melakukan gerakan protes. Kesadaran ini bersamaan dengan transisi sejarah yaitu munculnya kekuatan massa memaksa penguasa menerapkan cara baru dalam menangani masyarakat bisu. Fase naif atau kesadaran transitif naif, nerupakan kelanjutan semi intransitif. Pada tahap ini masyarakat sudah mampu melakukan refleksi. Masyarakat mulai menyadari akan keadaannya namun belum berdaya untuk kemandirianya atas kepentinganya.

Fase terakhir adalah kesadaran transitif kritis. Fase ini digambarkan dengan masyarakat yang telah mampu memandang kritis lingkungannya, memisahkan dirinya dengan keadaan sekitar yang menindas, kemudian bertindak untuk membebaskan dirinya. Kegiatan fasilitasi atau pendampingan lapangan Sekaya Maritim setidaknya mampu membantu masyarakat nelayan di papua dan menyadari permasalahan-permasalahan mereka. Selanjutnya secara bersama-sama, atau semestinya menumbuhkan kesadaran kritis pada kelompok-kelompok dampingan untuk merumuskan solusi-solusi bagi permasalhan mereka sendiri dengan modal awal bantuan fisik berupa sarana dan prasarana seperti yang digambarkan sebelumnya.

0 Comments