Tiga Motif Pencurian Data Pribadi Dingkap SAFEnet



Ilustrasi

Jakarta, sumbar.online -- (South East Asia Freedom of Expression Network), lembaga yang menangani soal kasus hak digital, menyebut ada tiga motif pelanggaran Data Pribadi.

Pelanggaran ini bisa berupa pencurian dan penyalahgunaan data. Ketiga motif itu terkait ekonomi, politik, dan ancaman.

"Kalau kita lihat pelanggaran privasinya yang berkaitan dengan data pribadi sebenarnya ada tiga pola, pertama yang berkaitan dengan ekonomi misal jual beli ilegal. Kedua, yang berkaitan dengan politik jadi ekspos data pribadi tapi tujuannya politis," kata Koordinator Regional SAFEnet Damar Juniarto, kepada awak media di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Kamis (1/8/19).

Pelanggaran dengan motif ekonomi biasanya dilakukan dengan jual beli data pribadi secara ilegal. Sementara penyalahgunaan data pribadi dengan motif politik biasanya dimanfaatkan terkait kekuasaan.

"Misal lawan politik dibuka datanya, itu sebenarnya pelanggaran data pribadi. Yang ketiga kita lihat sebagai aspek ancaman jadi membuka data pribadi tapi targetnya adalah membuat orang itu merasa takut," sambung dia.

Ditanya soal seberapa keuntungan jual beli data pribadi. Damar mengatakan peluang untuk mendapatkan keuntungan dari jual beli data pribadi sangat besar.

"Sebetulnya peluang ekonominya besar, misal OVO Premium dijual Rp50 ribu. Tapi, modal sebenarnya nol karena kan dia mengambil data-datanya, jadi sebetulnya ada keuntungan," tuturnya.

Oleh sebab itu, SAFEnet menganjurkan kepada pihak penyedia layanan untuk membuat mekanisme verifikasi secara jelas.

Pasalnya, saat ini untuk memproses verifikasi data hanya memerlukan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK). Damar menganggap kedua model verifikasi tersebut mudah dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Saya merasa sebetulnya baik pelaku swasta maupun di luar itu perlu bikin mekanisme yang jelas bagaimana model verifikasi. Sekarang kayaknya tidak cukup NIK dan KK karena keduanya gampang jebol mungkin harus dikombinasi dengan biometrik atau yang lain supaya datanya aman," jelas dia.

Sebelumnya cuitan seorang netizen Semuel Christian Hendra di akun @hendralm ramai di media sosial. Ia mencuitkan soal ramainya jual beli data pribadi berupa NIK, nomor KK, hingga foto selfie.
Jual beli ini dilakukan di grup Dream Market Official di Facebook. Dari tangkapan layar yang dibagikan dari grup itu transaksi jual beli data kependudukan ini digunakan untuk membuka akun layanan jual beli online menggunakan data orang lain. Jumlah yang diperjualbelikan pun ratusan hingga ribuan data kependudukan.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah memberikan peringatan kepada masyarakat supaya tidak sembarangan mengunggah foto identitas dan foto diri di media sosial. (*)

Sumber : CNN Indonesia

0 Comments