Mahasiswa Meninggal Ditembak, Presnas BEM PTAI Serukan Bendera Setengah Tiang



Sumbar.online, Jakarta - Menyikapi tindakan refresif aparat kepolisian dalam menangani sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa di Indonesia yang menolak beberapa Rancangan Undang-Undang kontroversial untuk disahkan menjadi Undang-Undang, Presiden Mahasiswa Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (Presnas BEM PTAI) Cecep Hidayatullah, menyerukan seluruh BEM dari perguruan tinggi agama Islam se-indonesia untuk menurunkan bendera setengah tiang.

"Sebagai penghormatan terakhir kita atas meninggalnya Randi, mahasiswa Universitas Haluleo yang ditembak keji dan untuk kawan kawan se-indonesia yang mengalami luka sampai kritis akibat tindak refresif aparat kepolisian, saya instruksikan teman teman menggelar doa, tabur bunga dan penurunan bendera setengah tiang," ajak Cecep kepada awak media saat di mintai keterangan melalui WhatsApp, Jum'at (27/9)

Cecep juga mendesak presiden untuk memberikan gelar pahlawan demokrasi bagi mahasiswa yang gugur dalam menyuarakan aspirasi masyarakat Indonesia.

"Melihat banyaknya mahasiswa yang luka akibat tindakan refresif aparat kepolisian diseluruh Indonesia dalam mengamankan demonstrasi mahasiswa bahkan sampai menyebabkan korban jiwa, kami mendesak Kapolri Tito Karnavian untuk mundur dari jabatannya karena dinilai gagal dalam mereformasi polri, khususnya dalam penanganan demo yang seharusnya komunikatif dan persuasif, bukan represif seperti 1998," sesal Cecep yang juga kader pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Selain itu, Cecep juga mengungkapkan sejumlah kegagalan Tito Karnavian menjelang akhir pemerintahan Jokowi-JK berakhir pada 20 Oktober 2019.

"Sudah saatnya ditubuh polri ada regenerasi, karena menjelang pelantikan presiden terpilih 2019-2024, kapolri telah gagal dalam sejumlah hal, diantaranya gagal menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat Indonesia di Papua, gagal memadamkan dan mencegah serta mengungkap dalang kebakaran hutan, gagal mengungkap dalang penyiraman air keras kepada penyidik KPK novel Baswedan, gagal dalam melakukan intergrasi manejemen dengan media, gagal lakukan sistem pengelolaan napi, dan kegagalan yang lainnya," tambahnya.

Cecep juga mengajak seluruh mahasiswa untuk tetap konsisten dalam menyuarakan kebenaran dengan konsistensi menolak sejumlah RUU Kontroversi.

"Kami harap jangan ada mahasiswa penghianat perjuangan murni kita yang telah memakan korban jiwa, kami mengawasi dan memperingati teman teman yang mewakili mahasiswa besok di istana bertemu presiden jika mereka berkhianat terhadap perjuangan kita selama ini. Mari kita beri mereka sangsi sosial karena mahasiswa yang menjual idealismenya kepada kekuasaan tidak lebih rendah dari pelacur Intlektual. Kami menunggu kabar dari teman teman yang informasinya di undang istana negara," tutupnya.
(Fauzaki)

0 Comments