PELAJARAN BERHARGA DARI NEGARA KINCIR ANGIN


Oleh: Mita Handayani
Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unand/Reporter FIB Unand

PADANG, SUMBAR.ONLINE - “Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli atau ditukar dengan apapun. Prosesnya hanya bisa dipahami dan dirasakan oleh si empunya pengalaman itu sendiri. Sementara itu, seorang ilmuwan besar, Albert Einstein mengungkapkan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman”

Banyak hal berharga yang saya dapatkan ketika diberi kesempatan oleh Universitas Andalas untuk mengikuti kegiatan Student Mobility Program (Program Pertukaran Mahasiswa) selama satu bulan ke Negara Kincir Angin, Belanda. Program ini tepatnya di adakan di Universitas Leiden. Dari pengalaman tersebut, saya ingin membagikan pengalaman tentang bagaimana sistem pendidikan yang saya rasakan ketika berada di Universitas Leiden, tingginya penghargaan masyarakat Belanda kepada para pejalan kaki, budaya tidak menggosip dan saling menghargai antar individu, serta budaya membuat janji (appointment). 
Universitas Leiden adalah universitas tertua di Belanda. Dilansir dari web resmi Universitas Leiden, universitas ini terletak di daerah Leiden dan didirikan pada tahun 1575 oleh Pangeran Willem Van Oranje. Ia juga dikenal sebagai universitas negeri dengan riset yang terkemuka di dunia. Sementara itu, moto yang selalu digadang-gadangkan oleh universitas ini ialah Libertatis Praesidium/Bastion of Freedom/benteng kebebasan.
Ada hal unik yang saya rasakan selama mengikuti sistem perkuliahan selama satu bulan di kampus dengan peringkat ke 67 di dunia ini (sumber Hotcourses Indonesia). Saya mengamati bahwa nama bukanlah suatu hal yang begitu penting dalam proses belajar mengajar (PBM). Mahasiswa cenderung langsung melontarkan pertanyaan kepada dosen yang sedang mengajar ketika ia merasa tidak paham dengan materi yang disampaikan. Hal ini dilakukan tanpa memperkenalkan nama terlebih dahulu. Begitu pula dengan mahasiswa yang ingin berargumentasi atau ingin menyanggah. Mereka hanya akan mengacungkan tangan dan langsung menyampaikan hal yang ingin mereka sampaikan. Tanpa didahului perkenalan nama. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan di “Kampus Hijau”, Universitas Andalas. Mahasiswa akan memperkenalkan nama dan beberapa orang ada yang menyebutkan nomor buku pokok (BP) sebelum mereka menyampaikan pertanyaan yang bersarang di kepala mereka ketika PBM sedang berlangsung.
Selain itu, budaya daring (online) sepertinya sangat ngetren dalam sistem pendidikan dunia saat ini. Hal itu juga yang terjadi pada universitas dengan nama latin Academia Lugduno-Batava ini. Berdasarkan pengalaman saya selama mengikuti kelas Bahasa Indonesia dengan Dr. Suryadi (Orang Indonesia yang menjadi pengajar di Universitas Leiden), ia selalu mengirimkan materi pelajaran secara daring kepada mahasiswanya. Materi ini selalu dikirimkan dua atau tiga hari sebelum perkuliahan diadakan. Dr. Suryadi hanya perlu mengunggah bahan pelajaran di dashbord Universitas Leiden. Mahasiswa dapat mengakses bahan tersebut dengan LU (Leiden University) Account mereka masing-masing. Selama belajar di Universitas Leiden, saya juga mendapatkan Leiden University Account (LUA) agar dapat mengakses pelajaran dan bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Terutama bahan-bahan yang berada di Asian Library (Perpustakaan Asia). Perpustakaan ini merupakan perpustakaan yang berisikan kajian yang memiliki hubungan dengan negara-negara Asia termasuk Indonesia. Namun, tidak segampang itu untuk mendapatkan LUA tersebut. Saya butuh merogoh kocek sebesar 30 Euro atau sekitar Rp. 500.000 untuk mendapatkannya. LUA ini diberikan seiringan dengan kartu anggota perpustakaan. Akan tetapi, saya merasakan bahwa uang tersebut sebanding dengan fasilitas yang didapatkan selama belajar di sana. Saya dapat dengan bebas mengakses bahan-bahan yang ada di Universitas Leiden dimana bahan tersebut tidak di dapatkan Indonesia. Misalnya seperti beberapa arsip kuno tentang sejarah Indonesia.
Sejauh pengamatan saya, mahasiswa Universitas Leiden juga sangat gemar dalam membaca. Mereka rela menghabiskan waktu hanya untuk membaca buku di perpustakaan hingga larut malam. Saya juga ingin menceritakan bahwasanya Asian Library yang ada di Universitas Leiden selalu dibuka hingga jam 12 malam untuk Hari Senin s.d. Hari Jumat. Sementara pada Hari Sabtu dan Minggu (akhir pekan), perpustakaan tersebut dibuka hingga pukul 11 malam. Jadi, mahasiswa bisa menghabiskan waktu sebanyak yang mereka mau untuk belajar di perpustakaan tersebut. Proses meminjam buku di perpustakaan ini juga terbilang cukup unik. Mahasiswa hanya perlu meminjamnya secara daring di dashboard Universitas Leiden. Dibutuhkan waktu 15 menit untuk menunggu balasan email dari pihak perpustakaan Universitas Leiden terkait peminjaman buku. Email tersebut berisikan informasi dimana kita harus mengambil buku yang kita pinjam. Setelah kita mendapatkan informasi tersebut, kita bisa menuju loker tempat buku tersebut diletakkan. Untuk mengambil buku itu, kita harus menghadapkan (tap) kartu anggota perpustakaan kita ke layar loket buku tersebut. Disisi lain, proses pengembalian buku lagi-lagi juga cukup unik. Kita tidak perlu mengembalikannya pada penjaga perpustakaan. Cukup gelindingkan saja buku tersebut ke sebuah tempat yang memang sudah disediakan. Maka buku tersebut akan kembali ke Asian Library. Tempat pengembalian buku tersebut berada di dekat pusat informasi Asian Library.
Hal kedua yang ingin saya ceritakan adalah tingginya penghargaan masyarakat Belanda kepada para pejalan kaki. Tercengang dan juga kagum. Dua kata itu yang sepertinya ingin saya katakan tentang bagaimana orang-orang di Belanda memperlakukan para pejalan kaki. Mereka sangat menghargai dan menghormati para pejalan kaki. “Kasta” lalu lintas tertinggi di Negara Belanda dimiliki oleh para pejalan kaki. Posisi kedua ditempati oleh pengayuh sepeda. Sementara posisi ketiga dan keempat ditempati oleh pengendara sepeda motor dan mobil. Pengendara sepeda motor dan mobil akan langsung berhenti apabila mereka melihat ada pejalan kaki yang ingin melintas di depan mereka. Pernah suatu ketika, saya sedang buru-buru menuju ke Universitas Leiden. Hari itu saya akan mengikuti kelas Bahasa Indonesia dengan Dr. Suryadi. Karena tidak ingin terlambat, saya mengayuh sepeda dengan cukup kencang. Lalu, di tengah-tengah perjalanan, saya ingin menyebrang ke arah yang berbeda. Otomatis saya harus melintas di tengah jalan. Sementara itu, saya melihat sebuah mobil melaju dengan cukup kencang dari arah kanan saya. Keraguan saya mulai muncul. Apakah saya akan melintas atau menunggu mobil tersebut lewat baru saya melintasi jalan tersebut. Melihat saya yang akan menyebrang, tiba-tiba mobil tersebut berhenti. Muncul sesosok pria dari kaca mobil dan berkata “please” kepada saya. Hal ini berarti ia mempersilahkan saya untuk melintasi jalan tersebut terebih dahulu. Sungguh luar biasa perasaan yang saya rasakan. Seorang pengendara mobil mempersilahkan saya yang hanya mengendarai sepeda untuk melintasi jalan terlebih dahulu. Saya sungguh merasakan pengalaman baru yang sangat luar biasa. Meskipun orang-orang di negara Van Orange ini sangat menghargai para pejalan kaki, namun jangan coba-coba pula untuk tidak taat pada peraturan lalu lintas di jalan raya. Jika hal itu anda lakukan, maka bersiap-siaplah untuk mendapatkan sumpah serapah dari orang-orang Belanda. Biasanya, mereka akan cenderung menyumpahi dalam Bahasa Belanda ketimbang Bahasa Inggris. Karena memang begitu, ketika marah dalam bahasa ibu (mother tongue) rasanya jauh lebih “menggigit”.
Hal ketiga yang sangat menarik bagi saya dari Negara dengan pendapatan perkapita sebesar 52. 867. 325 pada tahun 2018 (dilansir dari CEIC Data) ini adalah budaya tidak menggosip dan saling menghargai antar individu. Sejauh pengamatan saya,  tingkat kekepoan masyarakat Belanda terhadap kehidupan orang lain bisa dikatakan sangat kecil jika dibandingkan dengan masyarakat (warganet) Indonesia. Mereka sangat jarang sekali bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah mengurusi kehidupan orang lain. Bagi mereka, kehidupan privat seseorang tidak harus mereka ketahui. Selama saya berada di negara Belanda, tidak satupun orang yang saya lihat tengah bergosip dan sibuk membicarakan aib orang lain. Orang-orang Belanda hanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Kendatipun bisa dikatakan Orang Belanda merupakan orang yang individualis dan tidak ikut campur dengan kehidupan orang lain, namun budaya tolong-menolong mereka sangatlah tinggi. Hal tersebut saya rasakan secara langsung. Pada suatu pagi dengan cuaca yang kurang baik, saya pergi ke kampus dengan mengggunakan bus. Pada saat hendak sampai ke Stasiun Leiden (Leiden Central Station), bus tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan. Supir bus langsung turun dan membantu seorang wanita yang terjatuh dari motor. Tak lama, aksi supir bus tersebut disusul oleh beberapa penumpang bus yang lain. Saya merasa, meskipun Orang Belanda sangat individualis dalam kehidupan, namun mereka masih memegang teguh budaya tolong-menolong terhadap sesama manusia. Contoh lain yang saya rasakan dari budaya tolong-menolong Orang Belanda yang sangat tinggi adalah ketika saya tersesat di beberapa daerah yang ada di Belanda. Orang Belanda sangat ramah ketika ditanyai suatu alamat. Mereka akan menjelaskan dengan sangat detail kepada kita. Tak jarang juga dari mereka yang rela mengantarkan ke tempat tujuan yang sedang dicari.

Hal terakhir yang ingin saya bagikan adalah mengenai budaya membuat janji (appointment). Budaya membuat janji sebelum bertemu adalah budaya yang sangat penting di Belanda. Hal ini tidak hanya berlaku di dunia pendidikan namun juga dalam kehidupan sehari- hari. Baik itu di Rumah Sakit, di kantor, maupun ketika hendak berkunjung ke rumah tetangga. Pernah suatu ketika, saya ingin bertemu dengan teman sekelas yang merupakan Orang Belanda asli. Ketika ingin bertemu, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menemui saya lantaran sudah ada janji dengan orang lain dan pertemuan tersebut sudah dirancang dari jauh-jauh hari. Oleh sebab itu, saya harus menyesuaikan kembali pertemuan tersebut dengan jadwal kosong yang ia miliki. Contoh lain dari budaya membuat janji ini adalah ketika kita ingin ke rumah sakit dan menemui dokter. Sebelum ke rumah sakit, kita harus menelpon dokter yang bersangkutan dan membuat janji mengenai pertemuan. Jika tidak demikian, jangan harap akan dilayani ketika kita nyelonong dan nekad ke rumah sakit tanpa membuat janji bertemu sebelumnya. Namun, jangan coba-coba terlambat ketika kita sudah membuat janji. Orang Beelanda sangat disiplin. Mereka tidak akan melayani orang-orang yang tidak konsisten terhadap waktu (tidak on time). Menurut saya, hal ini adalah hal yang sangat baik untuk diterapkan di Indonesia. Jika sistem membuat janji (Appointment) ini dilakukan, maka tidak akan ada lagi orang yang antri di rumah sakit jika ingin menemui dokter karena mereka telah mengetahu jadwal mereka masing-masing untuk bertemu dengan dokter bersangkutan.

0 Comments