Perkembangan Media Sosial Memicu Cyber Bullying.


PADANG, SUMBAR.ONLINE - Indonesia merupakan Negara berkembang di segala aspek, seperti aspek ekonomi, politik, sosial, budaya maupun teknologi. Berbagai perkembangan dari segala aspek yang  terfokus di aspek teknologi. Teknologi sudah menjadi hal yang lumrah di konsumsi oleh masyarakat  salah satunya handphone atau gadget. Peluncuran-peluncuran gadget dari tahun ke tahun membuat semua masyarakat mudah untuk membelinya karena harga yang terjangkau oleh perekonomian masyarakat. Namun akibat maraknya pemakaian gadget dan penggunaan internet yang mudah di akses membawa dampak positif dan negatif oleh pemakainya. Menurut data terbaru yang dirilis We Are Socialper Agustus 2017 jumlah pengguna internet di tahun 2017 adalah 3,8 milyar orang dan 2,9 milyar diantaranya aktif menggunakan media sosial. Semua sumber informasi bisa di akses dengan mudah melalui internet yang merupakan dampak positif dari internet itu sendiri,  salah satu dampak negatif dari internet adalah maraknya pembullyan di media sosial. Contoh pembullyan menggunakan media sosial dari kalangan anak-anak maupun remaja adalah menghina indvidu secara sengaja. Pembullyan melalui media sosial juga sering dilakukan oleh orang dewasa. Pembullyan yang dilakukan melalui media sosial juga disebut juga “Cyber bullying” yang masih hangat diperbincangkan akhir-akhir ini.
Cyber bullying adalah segala bentuk kekerasan yang di alami anak-anak atau remaja yang dilakukan oleh teman seusianya melalui internet. Internet dan teknologi-teknologi lain yang berkaitan tumbuh menjamur dalam tahun-tahun terakhir ini. Jutaan situs web tersedia dan penggunaan email menjadi sesuatu hal yang biasa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan  Pew Internet and American Life Project didapatkan informasi bahwa 93% remaja (usia 12-17) sering online di media sosial. Sebagian anak-anak telah menggunakan Internet (usia 0-5), 80% nya setidaknya menggunakannya seminggu sekali. Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan  perubahan yang signifikan dalam pola jaringan sosial. Ada dua perspektif  pada orientasi perubahan ini, Salah satunya adalah bahwa, semakin individu menghabiskan lebih banyak waktu di Internet, semakin berkurang waktu yang tersedia untuk berinteraksi dengan orang lain. Akibatnya, penggunaan Internet berdampak pada penurunan intensitas interaksi sosial dengan lingkungan. Perspektif kedua adalah bahwa Internet yang dapat memperluas kesempatan bagi orang untuk berinteraksi dengan orang lain, memberikan kontribusi tidak hanya terhadap peningkatan intensitas interaksi tetapi juga terhadap lingkup interaksi sosial.
Terjadinya cyber bullying disebabkan hubungan respon yang terputus dengan sahabat atau teman, atau kadang-kadang karena kebencian, dan berberapa kasus online bullying terjadi karena respon terhadap offline bullying. Banyak dari anak-anak atau remaja menganggap cyber bullying ini sebagai sebuah permainan, sebuah hiburan yang melukai orang lain. Para pelaku bermaksud iseng saja sehingga mereka lebih sering menggunakan teknologi dari pada kontak fisik secara langsung dan hanya bersenang-senang saja. Cyber bullying kerap terjadi dimana anak-anak atau remaja di intimidasi, dihina, diejek, diancam, atau dipermalukan oleh temannya melalui internet, gadget, maupun teknologi digital. Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pun semakin canggih, salah satunya anak-anak maupun remaja sangat mahir menggunakan teknologi dan penggunaan internet.
Media sosial adalah salah satu alat transportasi dari cyber bullying dimana media sosial  saat ini sedang digandrungi oleh kalangan anak-anak maupun remaja. Dengan aktif di sosial media membuat anak-anak maupun remaja bisa dinilai gaul oleh anak-anak maupun remaja lainnya. Akibat pembullyan melalu media sosial ini, seorang anak maupun remaja mentalnya akan terganggu, menutup diri dari lingkungan, kekecewaan yang mendalam, sedih, merasa tertekan, dan tidak mempunyai rasa percaya diri. Misalnya Menghina atau mengejek teman melalui media sosial. Hal ini sangat merugikan korban cyber bullying namun si pelaku tidak memikirkan efek dari hal tersebut. Tidak terpikir oleh pelaku dampak dari cyber bullying yang bisa merusak jiwa dan kondisi psikologis dari remaja. Cyber bullying bisa jadi lebih berbahaya dari bullying tradisional, pertama cyber bullying mudah dimulai, hanya dengan satu kali “klik” saja dan anonimitas (tidak ada nama) dari Internet bisa menghilangkan banyak hambatan yang ditemui dalam aksi tradisional. Alasan kedua adalah sulit untuk dihentikan karena gambar atau foto-foto yang disebar melalui media internet akan tersebar keseluruh penjuru dunia.
Banyak pihak yang harus ikut menanggulangi permasalahan ini. Pihak-pihak lain tersebut mencakup orang tua, sekolah, konselor, para penegak hukum, media sosial, dan masyarakat umum.Tantangan-tantangan di atas inilah yang menyebabkan aksi cyber bullying terus berlanjut dan semakin meningkat jumlahnya karena tidak segera ditangani. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dibutuhkan kerja sama dari pihak-pihak tersebut. Untuk mencegah hal itu peranan orang tua sangat penting dalam memberikan edukasi tentang media online yang aman dan baik. Orang tua juga harus mengawasi anaknya dalam aktivitas online baik secara formal maupun non formal.
Kebanyakan orang tua tidak mengetahui anaknya terkena cyber bullying ditandai dengan mereka berhenti menggunakan komputer atau handphone, gugup atau kaget menerima pesan instan baik itu dari sosial media atau email muncul, kelihatan tidak nyaman untuk pergi kesekolah atau keluar rumah, terlihat frustasi, menghindari diskusi tentang apa yang telah mereka lakukan pada komputer atau ponsel, atau menjadi menarik diri dari teman-teman dan keluarganya. Sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam ikut serta mencegah terjadinya cyber bullying. Jika anak mengalami cyber bullying hal terbaik yang dapat dilakukan orang tua adalah meyakinkan bahwa mereka merasa aman dan nyaman serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Langkah penting yang bisa diambil sekolah adalah dengan memberikan edukasi kepada komunitas sekolah tentang tanggung jawab dalam penggunaan Internet dan teknologi digital yang lain.
Bagi anak sendiri, penting bagi mereka untuk terus menjalin komunikasi dengan orang dewasa yang mereka percayai, baik itu orang tua, guru, maupun orang lain sehingga jika ada pengalaman yang tidak menyenangkan mereka dapat menceritakannya kepada mereka. Para penegak hukum juga memiliki peran dalam mencegah dan merespon terjadinya cyber bullying. Aturan-aturan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan penggunaan sarana online harus diketahui dan dikuasai dengan benar. Jika terjadi tindakan cyber bullying mereka harus turun tangan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hukum yang mengatur adalah undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Cyber bullying bukan semata-mata masalah remaja saja namun juga menjadi tanggung jawab stake holder yang lain termasuk orang tua, sekolah, masyarakat, para penegak hukum dan lain sebagainya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi cyber bullying ini. Setiap stake holder memiliki tugas untuk melakukan sesuatu sesuai dengan perannya agar cyber bullying ini dapat dicegah dan dihentikan. Untuk itu dibutuhkan juga kerjasama dari semua pihak yang terkait ini. Dengan respon yang tepat baik dari pihak korban, orang tua maupun sekolah, aksi cyber bullying ini dapat dihentikan, namun jika salah memberikan respon bisa jadi aksi ini akan semakin meningkat dan akan sangat merugikan bagi korban.

0 Comments