REFLEKSI KONTRIBUSI GOLONGAN KIRI BAGI NKRI ( Bunga Rampai Peristiwa G30S/PKI)



_“Sejarah yang baik bukanlah ditulis untuk dia sang pemenang, tapi juga untuk dia yang berjasa dan terabaikan”_

Oleh -Kelvin Ramadhan-

Ada semacam gangguan mental yang selalu melanda publik ketika ia dihadapkan pada hal-hal yang berhaluan “kiri”. Entah itu saya atau anda, perasaan gugup dan takut lantas seketika terbit ketika berbicara hal berbau kiri. Kehadiran golongan kiri bagaikan virus membahayakan yang harus dimusnahkan keberadaannya. Di setiap pembicaraan “kiri” di ruang-ruang gagasan, ruang-ruang publik (kolektif dan individu) negara telah dulu melakukan antipati yang ditunjukkan melalui sikap agresif pemerintah.

Membaca dari sejarah istilah golongan kiri pertama kali muncul pada zaman Revolusi Perancis. Penamaan golongan kiri disematkan oleh kaum Ancien Regime (rezim Aristokratik Perancis).  Kepada kaum Republik lawan politik nya di Perancis. Penamaan ini dilatarbelakangi karna Golongan Republik selalu duduk dan mengambil tempat disisi kiri di dewan legislatif. Disaat itu, kedua golongan politik ini mengalami pertentangan. Sayap kanan melakukan upaya mempertahankan kekuasaan penuh (hak veto) raja, sebaliknya sayap kiri menghendaki kekuasaan raja terlalu banyak atau harus dikurangi. Sayap kanan menghendaki sistem monarki. Sayap kiri menginginkan sistem republik atau demokrasi.
Dalam politik, istilah “kiri dan kanan” adalah sebagai bentuk pengkotak-kotakan politik atas dasar ideologi, pilihan politik, dan partai. Golongan Kiri sebagai partai pergerakkan yang revolusioner dan golongan kanan sebagai partai keteraturan yang konservatif. Menurut ilmuwan Italia Norberto Bobbio, apa yang disebut “kiri” dan “kanan” bisa dilihat pada sikapnya pada dua isu besar: pertama, “kesetaraan” vs “ketidaksetaraan” dan “kebebasan” vs “pengekangan (otoritarianisme)”.

Benturan antara keduanya membagi dunia kedalam dua ideologi besar antara sosialis-komunis pada sayap kiri dan liberalis-kapitalis di sayap kanan. Pertentangan keduanya merupakan benang merah bagian dari peristiwa-peristiwa besar dunia yang pernah terjadi sebut saja perang dunia II antara Jerman, Rusia, Italia, Jepang sebagai blok timur (berhaluan sayap kiri) dengan Perancis, Amerika, Inggris sebagai blok barat (berhaluan sayap kanan). Dan hingga saat ini pertentangan diantara keduanya masih berlanjut dalam perang dingin antara Tiongkok, Rusia, Korea Utara (sayap kiri) dengan Amerika dan sekutunya disayap kanan.

Pada dasarnya kiri tidak selalu berarti komunis, anarkis dan atheis sebagaimana stigma yang telah masyarakat tanamkan. Sehingga yang menjadi persoalan kita sebagai bangsa Indonesia adalah mengubah persepsi masyarakat ketika mendengar kata “golongan kiri”. Kesalahan persepsi masyarakat membawa pada anggapan golongan kiri identik dengan komunis. Hal ini masih berlangsung hingga sekarang, cap komunisme terhadap golongan kiri, buntut dari sejarah kelam G30S/PKI, membuat hal-hal yang berbau “kiri” adalah virus dan harus dimusnahkan di Indonesia Padahal ada banyak haluan yang termasuk golongan kiri, diantaranya ada sosialisme, marxisme, anarkisme dan pelbagai kajian ilmiah yang diideologikan lainnya.

Menurut hemat penulis, setelah menganalisis para tokoh kiri dunia, seperti Karl Marx, Che Guevara, Tan Malaka, Soekarno. Golongan kiri adalah mereka orang-orang idealis lagi kritis yang menghendaki perubahan. Mengutip pendapat filsuf jerman, Hegel, ada tiga hal yang akan membawa perubahan sosial; pertama ide-ide bertentangan, kedua; upaya untuk menyelesaikan pertentangan tersebut, ketiga; pertentangan-pertentangan yang akan muncul. Sejalan dengan pendapat Hegel orang-orang kiri menawarkan ide-ide pembaharuan yang bertentangan dengan kondisi status quo. Karena hanya dengan pertentangan, perubahan itu akan terjadi. Sejarah masyarakat yang mengalami ketertindasan telah melahirkan nama orang-orang kiri yang penulis tuliskan diatas. Maka untuk merubah keadaan menuju lebih baik, diperlukan upaya bernama pertentangan pada kemonotonan (status quo) dan ideologi penindas lainnya.

Sebut saja imperialisme Belanda terhadap Indonesia. Tanpa pertentangan Indonesia tidak akan pernah merdeka. Golongan kiri memiliki andil besar dalam memerdekakan dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsepsi yang ditawarkan para “kaum kiri” mampu mengaktifkan nalar dan semangat persatuan masyarakat untuk merdeka dari segala bentuk imperialisme dan kolonialisme.

Refleksi Kontribusi Golongan Kiri

Menilik historiografi Indonesia, ada upaya pengkaburan dan penyembunyian sejarah yang kerap dicantumkan pada buku pembelajaran. Sejarah Indonesia rasis. Seperti kita dapati pada kurikulum pembelajaran disekolah-sekolah bagaimana sejarah mencitrakan golongan kiri adalah ia yang komunis, ateis, dan ia yang anarkis. Upaya ini telah menggiring opini dan telah menjadi kayakinan dimasyarakat, membuat masyarakat phobia terhadap istilah “kiri”. Padahal sumbangsih tokoh-tokoh kiri, sangat besar bagi NKRI.

Dari segi gagasan. Pertama, golongan yang memantik api semangat kemerdekaan lahir dari gagasan kiri: persamaan nasib. Gagasan nasionalisme (NKRI harga mati) yang selalu diagung-agungkan bukanlah lahir atas kesamaan etnis, ras, dan budaya. Melainkan didorong atas dasar kesamaan nasib sebagai bangsa yang terjajah. Kedua, banyak para pendiri bangsa Indonesia diilhami oleh ide para tokoh revolusioner dan kesetaraan manusia, sebut saja Tan Malaka. Gagasannya merdeka 100% membuat ia dijuluki sebagai Bapak Republik. Pernah seketika Soekarno mengeluarkan pendapat “Tan Malaka adalah pencinta tanah air dan bangsa Indonesia, ia adalah sosialis sepenuh-penuhnya”. Ketiga, dasar negara Pancasila berfilosofi pada ide-ide kiri, seperti ide-ide pluralisme, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan social.  Soekarno sendiri sebagai pencetus Pancasila mengatakan bahwa Pancasila itu kiri.  Juga, pada pidatonya 1 Juni 1945 “kita hendak mendirikan satu negara buat semua. Bukan buat satu orang, buat satu golongan, baik golongan bangsawan, golongan kaya, tetapi semua buat semua”

Hal yang sama juga terlihat pada UUD 1945 pasal 1 ayat 1 dikatakan Indonesia adalah negara kesatuan dan berbentuk republik (bukan monarki). Dan pada ayat 2 dikatakan kedaulatan berada ditangan rakyat. Pasal 27 ayat 1, yaitu tentang persamaan kedudukan warga negara dimata hukum dan pemerintahan. Serta pasal 33 menyebutkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan kekayaan Indonesia di kuasai oleh negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Dari segi ketokohan. Hampir semua pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia berhaluan pada ide-ide dan gagasan kiri. Ada kartini sebagai tokoh kiri perempuan yang menentang diskriminasi gender dan anti-feodal. Tan Malaka dengan gagasan merdeka 100% menentang kolonialisme dan imperialism. Tan malaka pernah berucap “tuan rumah tidak akan berunding dengan orang yang menjarah rumahnya”. Tak juga ketinggalan Soekarno dan Hatta juga berhaluan  kiri. Soekarno dengan gagasan Marhaenisme (marxisme, hegel, dan lenimisme) dan juga hatta dengan cita-citanya mewujudkan masyarakat yang sosialis, merdeka dan setara. Dan terkahir yang tidak bisa kita nafikkan Bersama bagaimana kontribusi dan sumbangsih para tokoh-tokoh komunis (PKI). Anak-anak muda PKI yang mempunyai kontribusi besar sebelum peristiwa proklamasi, ada Sukarni, Wikana, dan Aidit.

Untuk itu, mengingat waktu Indonesia merdeka sudah berusia 74 tahun, maka semestinya simpang-siur sejarah bangsa yang kerapkali terjadi di murnikan kembali. Tidak sedikit kontribusi orang-orang yang tidak disebutkan namanya memiliki andil besar dibalik pembentukkan sejarah Indonesia. Maka dari itu pada tulisan singkat ini penulis mengajak agar merefleksikan dan mengangkat ke permukaan bagaimana besarnya kontribusi orang-orang kiri bagi NKRI yang harus diakui. Persekusi yang masih terjadi hingga sekarang terhadap golongan kiri bukan saja sebuah kejahatan melainkan menempatkannya sebagai “kaum durhaka” dihadapan sejarah dan para pendiri bangsa. Dan pada hakikatnya, kiri di Indonesia masih harus diberlakukan untuk membangun bangsa dan negara menuju kesejahteraan Bersama dan melawan neoliberalisme yang telah lama mencengkeram Indonesia. Ingat, kiri berarti mendahulukan keperntingan sosial bersamaan dengan nasional ketimbang kepentingan individual maupun golongan!

Post a Comment

0 Comments