Tahir Foundation donasi akses air bersih di Garut




JAKARTA. Hampir setiap musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami krisis air bersih menyusul sumur-sumur warga mengering. Salah satu wilayah rawan krisis air bersih saban tahun adalah Kecamatan Cibatu. Untuk meringankan beban warga, Tahir Foundation bersama Kelompok Kerja (Pokja) Salarea membangun fasilitas air bersih di dua titik, yakni Kampung Sumurkondang (Desa Kertajaya) dan Kampung Pasir Goong (Desa Cibatu). Saat ini, kedua akses air bersih itu sudah beroperasi dan manfaatnya telah dirasakan warga setempat.

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk membantu masyarakat lapisan bawah," kata Dato Sri Tahir, Pendiri Tahir Foundation, kemarin.

Bos Mayapada Group ini berharap fasilitas tersebut digunakan sebaik-baiknya, sehingga bermanfaat bagi banyak orang. "Semoga bisa menjadi model untuk daerah lainnya," ungkap Tahir yang terkenal dengan kedermawanannya.

Asal tahu saja, Tahir merupakan pendiri Mayapada Group. Seorang pengusaha dengan pengalamannya di bidang perbankan, tekstil, dan industri otomotif sejak awal tahun 1980-an yang telah membangun dan mengembangkan Mayapada Group dalam tiga dekade terakhir. Konsorsium bisnisnya meliputi bidang perbankan, asuransi, kesehatan, ritel, real estate dan media.

Tokoh filantrofis ini memiliki komitmen kuat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ia adalah sosok  penandatanganan pertama dalam Buffett-Gates Giving Pledge. Adapun prinsip yang dianutnya adalah "Dibangun oleh masyarakat dan untuk masyarakat", yang memberikan peranan penting dalam pertumbuhan berbagai usaha yang dikembangkannya.

Melalui Tahir Foundation, Tahir telah mendukung berbagai hal dalam pelayanan kesehatan, pendidikan dan reformasi hukum, serta menginvestasikan US$ 200 juta dalam kemitraan dengan Bill and Melinda Gates Foundation untuk mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Tokoh filantrofis ini dianugerahi gelar kehormatan "Dato 'Sri" dari Sultan Pahang Malaysia atas berbagai kontribusinya kepada masyarakat, dan juga diakui oleh almarhum mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew di Singapura atas kontribusinya dalam bidang pendidikan.

Ucapan terima kasih
Kepala Desa Kertajaya Cecep Kurniansah mengapresiasi kepedulian pihak swasta dalam pengadaan sumber air bersih ini. "Warga memang sangat membutuhkan sarana air bersih, sedangkan pendanaan dari desa sangat terbatas. Kami berterima kasih sekali kepada Tahir Foundation atas perhatiannya dan warga sangat terbantu," ujar dia.

Ustadz Ujang, Ketua DKM Masjid Nurul Falah, Pasir Goong mengamini, bahwa keberadaan sumur bor dalam ini penting bagi warga yang selalu kekurangan air saat musim kemarau berkepanjangan. "Kami atas nama warga Pasir Goong mengucapkan banyak terima kasih atas donasi yang telah diberikan pihak Tahir Foundation. Alhamdulillah, sekarang air banyak dan melimpah. Warga jadi sugeume [bahagia,red], tidak lagi susah air, ya," akunya.

Pendiri Pokja Salarea, Dadan M Ramdan juga mengapresiasi atas kepercayaan yang diberikan pihak Tahir Foundation untuk membangun fasilitas air bersih di Garut, sejak tahun 2017 lalu. Yang terang, pengadaan sanitasi air bersih ini memang sangat dibutuhkan dan tentu bermanfaat bagi banyak warga. Pasalnya, selama ini warga kesulitan mendapatkan air bersih setiap datang musim kemarau. Alhasil, kebutuhan air hanya dipasok dari kiriman mobil tangki PDAM dan memanfaatkan air yang bersumber dari kali meski tidak layak pakai.

Pokja Salarea dalam tiga tahun ini fokus menyalurkan donasi yang bersumber dari bantuan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) sejumlah perusahaan untuk pembangunan sarana air bersih lewat Program Sedekah Air. Selain dengan Tahir Foundation, Pokja Salarea pada tahun ini telah membangun fasilitas air bersih di sejumlah titik dari donasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan PT PNM (Persero), serta PT Astra Honda Motor Indonesia. "Program Sedekah Air Pokja Salarea ini bermula pada tahun 2017 lalu, ketika relawan Petualang Muslim menggalang dana untuk pengadaan air bersih di Cibatu dan menjadi titik pertama pengeboran sumur dalam di wilayah Garut," ungkap Dadan.

Merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, sedikitnya enam kecamatan mengalami kekeringan pada tahun ini, dengan kondisi warga sulit mendapatkan air bersih. Beberapa kecamatan yang mengalami darurat air bersih ini adalah Cibatu, Leles, Caringin, Limbangan, dan Malangbong. Cibatu menjadi salah satu kecamatan yang paling parah mengalami krisis air bersih.

Sejatinya, kesulitan air bersih di Cibatu sudah berlangsung cukup lama dan semakin parah di wilayah rawan kekeringan. Untuk menanggulangi masalah ini, selain dengan pengadaan sumur bor dalam, Pemerintah Kabupaten Garut diharapkan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk perluasan saluran irigasi dan pipanisasi air berih. Dari data BPBD Garut, saat ini sekitar 2.700 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan dan seluas 5.600 hektare lahan pertanian yang terancam kekeringan, padahal itu termasuk lahan produktif yang menjadi andalan pendapatan penduduk setempat. Kekeringan tersebar mulai dari wilayah utara dan selatan, dari kota yang dikenal dengan produk dodolnya.
(Rimba)

0 Comments